Inflasi AS Tembus 3,7%, Harga Bitcoin Turun ke US$81.300 Akibat Lonjakan Harga Bensin
Harga Bitcoin melemah setelah inflasi Amerika Serikat (AS) meningkat menjadi 3,7% secara tahunan pada September 2026. Kenaikan tersebut terutama dipicu oleh lonjakan harga bensin yang membuat pasar kembali memperhitungkan kemungkinan Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga pada Oktober.
Berdasarkan laporan Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS), Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) naik 3,7% secara tahunan pada September, lebih tinggi dibandingkan perkiraan pasar sebesar 3,6% dan meningkat dari 3,4% pada Agustus.
Harga bensin melonjak 9,1% dan menyumbang lebih dari separuh kenaikan inflasi utama. Sementara itu, indeks energi secara keseluruhan meningkat 5,2%.
Inflasi AS kini tercatat berada di atas target The Fed sebesar 2% selama 67 bulan berturut-turut. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan moneter dan dampaknya terhadap pasar keuangan, termasuk aset kripto.
Harga Bensin Jadi Pemicu Utama Inflasi AS
Lonjakan harga bensin berkaitan dengan kenaikan harga minyak mentah di tengah konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Harga minyak dilaporkan bertahan di atas US$90 per barel selama sebagian besar dua bulan terakhir, sehingga mendorong kenaikan harga bahan bakar.
Kenaikan inflasi yang didorong oleh energi memiliki karakteristik berbeda dibandingkan inflasi akibat meningkatnya permintaan konsumen. Meski demikian, kenaikan harga energi yang berlangsung lama dapat meningkatkan biaya transportasi dan produksi, sehingga berpotensi menekan daya beli masyarakat.
Bagi The Fed, kondisi tersebut menjadi tantangan dalam menentukan kebijakan suku bunga. Bank sentral perlu menilai apakah kenaikan inflasi hanya bersifat sementara atau berisiko menyebar ke berbagai sektor ekonomi.
Pada September 2026, The Fed telah menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75%–4%. Kenaikan tersebut menjadi yang pertama dalam lebih dari tiga tahun, berdasarkan informasi dalam laporan sumber.
Peluang The Fed Naikkan Suku Bunga Kembali Meningkat
Setelah data inflasi dirilis, pasar keuangan meningkatkan ekspektasi terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga pada Oktober.
Data pasar prediksi Kalshi menunjukkan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin meningkat menjadi 55%, dari sebelumnya 21%.
Sementara itu, CME FedWatch Tool memperlihatkan probabilitas kenaikan suku bunga berada di kisaran 44%–49%, dibandingkan sekitar 22% sebelumnya. Perbedaan angka tersebut mencerminkan perbedaan metode dan pembaruan probabilitas pada masing-masing platform.
The Fed dijadwalkan menggelar pertemuan kebijakan pada 27–28 Oktober 2026. Keputusan tersebut akan diumumkan sebelum data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) September dirilis pada 29 Oktober.
PCE merupakan salah satu indikator inflasi utama yang diperhatikan The Fed. Karena data tersebut belum tersedia saat keputusan suku bunga dibuat, laporan CPI dan indikator ekonomi lainnya akan menjadi bahan pertimbangan penting bagi para pembuat kebijakan.
Imbal Hasil Obligasi AS Naik, Bitcoin Tertekan
Kenaikan inflasi dan ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi turut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Kondisi ini memberikan tekanan tambahan terhadap Bitcoin dan aset berisiko lainnya.
Imbal hasil obligasi Treasury AS bertenor 10 tahun dilaporkan naik ke sekitar 5,3%, mendekati level tertinggi dalam 24 tahun. Sementara itu, imbal hasil obligasi bertenor dua tahun meningkat sekitar 10 basis poin menjadi 4,9%.
Kenaikan imbal hasil obligasi dapat membuat instrumen pendapatan tetap lebih menarik bagi investor. Pada saat yang sama, ekspektasi suku bunga tinggi dapat memperketat kondisi likuiditas dan mengurangi minat terhadap aset yang memiliki volatilitas tinggi, termasuk kripto.
Dalam perdagangan awal Rabu, Bitcoin diperdagangkan di sekitar US$82.142, turun 1,5%, sebelum menyentuh level US$81.300.
Level US$81.300 menjadi area support jangka pendek yang diperhatikan analis Bitget. Jika harga Bitcoin menembus area tersebut secara meyakinkan dan bertahan di bawahnya, tekanan jual berpotensi berlanjut. Namun, level support tidak menjamin harga akan memantul karena pergerakan pasar tetap dipengaruhi berbagai faktor.
Data PPI Berikutnya Jadi Perhatian Pasar
Pelaku pasar kini menantikan rilis Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI) AS pada Kamis. Data tersebut dapat memberikan gambaran mengenai perubahan harga di tingkat produsen dan membantu investor menilai tekanan inflasi lebih lanjut.
Jika tekanan harga masih kuat, ekspektasi kebijakan moneter ketat dapat bertahan dan membatasi pemulihan Bitcoin. Sebaliknya, data yang lebih rendah dari perkiraan berpotensi mengurangi kekhawatiran terhadap kenaikan suku bunga, meskipun tidak otomatis menjamin harga Bitcoin akan naik.
Investor juga perlu memperhatikan perkembangan harga minyak, imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta komunikasi resmi The Fed menjelang pertemuan Oktober.
Kesimpulan
Lonjakan harga bensin sebesar 9,1% menjadi faktor utama yang mendorong inflasi AS mencapai 3,7% pada September 2026. Data tersebut meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan menekan harga Bitcoin hingga mendekati US$81.300.
Dalam jangka pendek, arah Bitcoin akan dipengaruhi oleh perkembangan inflasi, imbal hasil obligasi AS, dan keputusan kebijakan moneter. Meski demikian, kenaikan atau penurunan suku bunga bukan satu-satunya faktor yang menentukan pergerakan harga kripto.
0 Comments