Likuiditas Bitcoin yang Tipis di Akhir Pekan Picu Lonjakan Gap Harga ETF pada Senin
Mengapa Likuiditas Bitcoin yang Tipis di Akhir Pekan Bisa Memicu Gap Harga ETF pada Senin?
Seorang investor yang memiliki Bitcoin melalui akun broker dapat menyelesaikan aktivitasnya pada Jumat sore, melihat harga penutupan ETF spot Bitcoin, lalu menganggap investasinya tidak akan berubah hingga pasar dibuka kembali.
Namun, Bitcoin bekerja dengan cara yang berbeda.
Di antara penutupan pasar pada Jumat dan pembukaan perdagangan pada Senin, Presiden AS Donald Trump dapat mengumumkan tarif baru, konflik geopolitik bisa meningkat, harga minyak melonjak, sebuah bank dapat mengalami krisis, atau pemerintah mengeluarkan kebijakan yang mengubah prospek inflasi dan suku bunga. Seluruh peristiwa tersebut langsung tercermin dalam harga Bitcoin yang diperdagangkan di berbagai bursa kripto di seluruh dunia, sementara saham ETF Bitcoin di Amerika Serikat masih berada di luar jam perdagangan.
Akibatnya, ketika Wall Street kembali dibuka pada Senin, harga ETF tidak melanjutkan perdagangan dari posisi penutupan Jumat. Harga saham ETF harus langsung menyesuaikan seluruh perubahan harga Bitcoin yang terjadi selama akhir pekan.
Bitcoin dapat dipindahkan antar-dompet digital dan diperdagangkan di bursa kripto selama 24 jam sehari, tujuh hari seminggu, tanpa harus menunggu pasar saham dibuka.
Sementara itu, ETF spot Bitcoin merupakan reksa dana yang diperdagangkan di bursa dan memiliki Bitcoin sebagai aset dasar. Produk ini memungkinkan investor memperoleh eksposur terhadap Bitcoin melalui akun broker biasa tanpa harus mengelola private key, memilih bursa kripto, atau menyimpan aset digital secara mandiri.
Namun, kemudahan tersebut memiliki konsekuensi karena ETF tetap mengikuti jadwal perdagangan pasar saham tradisional. Sesi utama New York Stock Exchange (NYSE) berlangsung dari pukul 09.30 hingga 16.00 waktu New York pada hari kerja, yang menjadi periode dengan likuiditas perdagangan ETF paling besar.
Beberapa broker memang menyediakan sesi pre-market, after-hours, atau overnight. Selain itu, beberapa ETF Bitcoin juga diperdagangkan di Nasdaq, bukan NYSE. Meski demikian, likuiditas di luar jam perdagangan reguler biasanya lebih tipis, dan perdagangan ETF tetap tidak tersedia pada akhir pekan.
Pasar ETF Bitcoin Kini Bernilai Puluhan Miliar Dolar
Hingga akhir Juli, ETF spot Bitcoin di Amerika Serikat mengelola aset sekitar US$77,5 miliar, menjadikannya salah satu instrumen investasi terbesar yang memengaruhi likuiditas dan pembentukan harga Bitcoin selama jam perdagangan AS.
Salah satu contohnya adalah iShares Bitcoin Trust (IBIT) milik BlackRock. Pada 30 Juli, dana tersebut mengelola aset senilai US$47,67 miliar dan memperdagangkan lebih dari 36 juta saham dalam satu hari. Selama 30 hari sebelumnya, median selisih harga beli dan jual (bid-ask spread) hanya sekitar 0,03%, sehingga investor dapat masuk atau keluar dari posisi dengan biaya transaksi yang relatif rendah selama jam perdagangan normal.
Namun, setelah perdagangan IBIT ditutup, Bitcoin tetap diperdagangkan di berbagai platform seperti Coinbase, Binance, OKX, dan Bybit, termasuk melalui desk institusi dan pasar derivatif.
Meski Wall Street belum berhasil mengubah Bitcoin menjadi aset yang hanya diperdagangkan pada hari kerja, kehadiran ETF telah membuat aktivitas perdagangan pada hari kerja menjadi jauh lebih dominan.
Analisis CryptoSlate sebelumnya menunjukkan bahwa sekitar 47% volume perdagangan Bitcoin kini terjadi selama jam perdagangan Amerika Serikat. Aktivitas pada hari kerja bahkan mencapai sekitar dua kali lipat dibandingkan akhir pekan. Hal ini menciptakan likuiditas yang lebih dalam ketika investor institusi aktif, namun membuat pasar menjadi lebih tipis setelah jam kerja dan selama akhir pekan.
Mengapa Likuiditas Penting?
Likuiditas menggambarkan seberapa besar transaksi jual atau beli yang dapat diserap pasar tanpa menyebabkan perubahan harga yang signifikan.
Pasar dengan likuiditas tinggi memiliki banyak antrean beli dan jual di sekitar harga saat ini, sehingga transaksi dalam jumlah besar tidak banyak menggerakkan harga. Sebaliknya, pasar dengan likuiditas tipis memiliki lebih sedikit pembeli dan penjual pada setiap level harga, sehingga transaksi dengan nilai yang sama dapat memicu perubahan harga yang jauh lebih besar.
Akhir pekan tidak selalu identik dengan volatilitas tinggi. Sebagian besar hari Sabtu dan Minggu berlalu tanpa adanya krisis keuangan, kebijakan tarif mendadak, atau keputusan pemerintah yang mengguncang pasar.
Namun, risiko muncul ketika peristiwa besar terjadi saat likuiditas sedang tipis. Analisis CryptoSlate menunjukkan bahwa guncangan pasar pada akhir pekan sering kali menyebabkan selisih harga antar-bursa melebar serta biaya transaksi meningkat karena partisipasi investor institusi lebih rendah.
Dengan demikian, ledakan popularitas ETF Bitcoin menciptakan sebuah konsekuensi. Bitcoin memperoleh lebih banyak modal institusi, spread yang lebih sempit pada hari kerja, dan akses investasi yang lebih mudah melalui broker. Namun di sisi lain, likuiditas menjadi semakin terkonsentrasi pada hari kerja.
Sebagai contoh, bayangkan terjadi eskalasi konflik geopolitik pada Sabtu yang menyebabkan harga minyak melonjak. Investor kemudian memperkirakan inflasi akan meningkat, peluang penurunan suku bunga Federal Reserve berkurang, dan kondisi keuangan menjadi lebih ketat.
Akibatnya, harga Bitcoin turun di berbagai bursa global. Posisi trader yang menggunakan leverage mulai terkena likuidasi sehingga aksi jual semakin besar. Karena likuiditas akhir pekan lebih tipis, penurunan harga menjadi lebih tajam.
Sementara itu, investor ETF hanya dapat menyaksikan penurunan tersebut karena mereka baru bisa memperdagangkan saham ETF setelah pasar dibuka pada Senin.
Ketika perdagangan dimulai kembali, market maker akan menyesuaikan harga ETF dengan seluruh pergerakan Bitcoin yang telah terjadi selama akhir pekan. Misalnya, ETF yang ditutup pada harga US$40 pada Jumat bisa langsung dibuka di sekitar US$37 pada Senin karena harga Bitcoin sudah lebih dulu turun di pasar global.
Gap harga saat pembukaan tersebut belum tentu menunjukkan investor ETF panik menjual asetnya. Dalam banyak kasus, gap hanya mencerminkan penyesuaian terhadap harga Bitcoin yang sudah bergerak sebelumnya.
Peran Pasar Derivatif
Keberadaan pasar derivatif yang diatur regulator telah membantu mengurangi sebagian kesenjangan tersebut. CME Group memungkinkan investor institusi mengelola eksposur terhadap kripto di luar jam perdagangan ETF.
Meski demikian, saham ETF beserta opsi yang diperdagangkan di bursa tetap mengikuti kalender pasar saham. Artinya, institusi dapat menyesuaikan sebagian posisi mereka melalui derivatif, tetapi tidak dapat memperdagangkan saham ETF hingga bursa kembali dibuka.
Volume Perdagangan Berbeda dengan Arus Dana
Data ETF Bitcoin sering kali membingungkan karena investor kerap menyamakan empat indikator yang sebenarnya berbeda, yaitu harga Bitcoin, harga ETF, volume perdagangan ETF, dan arus dana (flow) ETF.
Harga Bitcoin menunjukkan nilai BTC di pasar global. Harga ETF adalah harga saham ETF yang diperdagangkan di bursa. Volume perdagangan menunjukkan jumlah saham ETF yang berpindah tangan, sedangkan flow mencerminkan jumlah dana bersih yang masuk atau keluar melalui proses penciptaan (creation) maupun penebusan (redemption) unit ETF.
Volume yang tinggi tidak selalu berarti ada dana baru yang masuk. Investor bisa saja memperjualbelikan saham ETF yang sama tanpa menambah ukuran dana kelolaan.
Sebaliknya, net inflow terjadi ketika permintaan investor mendorong penerbitan unit ETF baru. Net outflow terjadi ketika unit ETF ditebus sehingga dana keluar dari produk tersebut.
Pada 2025, SEC menyetujui mekanisme in-kind creation dan redemption untuk ETF kripto. Mekanisme ini memungkinkan authorized participant menukar Bitcoin secara langsung dengan unit ETF sehingga harga ETF tetap bergerak mendekati nilai aset yang dimilikinya. Meski demikian, data arus dana harian umumnya baru tersedia setelah sesi perdagangan berakhir.
Permintaan terhadap ETF Bitcoin beberapa kali berubah drastis sepanjang Juli. Berdasarkan data Farside Investors, ETF Bitcoin mencatat arus keluar sebesar US$424,7 juta pada 13 Juli. Setelah itu, dana kembali mengalir masuk selama tujuh hari perdagangan berturut-turut, sebelum kembali mengalami outflow sebesar US$225,1 juta pada 23 Juli. Pada 30 Juli, ETF kembali mencatat inflow sebesar US$233,1 juta, sehingga total arus dana bersih kumulatif mencapai sekitar US$51,64 miliar.
Cara Memahami Pergerakan ETF pada Senin
Pergerakan tajam ETF Bitcoin pada Senin akan lebih mudah dipahami jika investor memisahkan penyesuaian harga akibat perdagangan akhir pekan dari perilaku investor ETF itu sendiri.
Langkah pertama adalah membandingkan harga Bitcoin saat ini dengan harga ketika pasar saham ditutup pada Jumat. Selanjutnya, perhatikan apakah harga pembukaan ETF sudah sesuai dengan nilai aset Bitcoin yang dimilikinya serta apakah spread melebar pada beberapa menit pertama perdagangan.
Setelah itu, volume perdagangan menunjukkan seberapa aktif saham ETF diperdagangkan, sedangkan data flow yang dirilis setelah pasar tutup menunjukkan apakah dana kelolaan ETF benar-benar bertambah atau justru berkurang.
Dengan kata lain, gap harga yang besar pada Senin belum tentu berarti investor panik. Volume perdagangan yang tinggi hanya menunjukkan aktivitas transaksi meningkat, sedangkan net outflow baru menunjukkan adanya pengurangan dana bersih dalam ETF, bukan berarti seluruh investor menjual kepemilikannya.
Pada akhirnya, ETF Bitcoin memang berhasil menyelesaikan berbagai tantangan seperti penyimpanan aset (custody), akses melalui broker, pelaporan, serta integrasi ke dalam portofolio investasi tradisional. Namun, ETF tidak mampu mengubah fakta bahwa Bitcoin tetap diperdagangkan secara global selama 24 jam sehari, tujuh hari seminggu.
ETF berhasil membawa Bitcoin masuk ke Wall Street, tetapi Wall Street tetap tidak bisa mengendalikan jam perdagangan Bitcoin.
0 Comments