Realisasi Anggaran MBG Tembus Rp 60 Triliun di Kuartal I 2026

Realisasi Anggaran MBG Tembus Rp 60 Triliun di Kuartal I 2026

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa realisasi anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga akhir kuartal I 2026 diperkirakan mencapai Rp60 triliun. Nilai tersebut dinilai akan memberikan dorongan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, khususnya pada awal tahun yang biasanya dipengaruhi oleh pelemahan konsumsi pascalibur panjang.

Pernyataan tersebut disampaikan Airlangga usai mengikuti rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah menteri Kabinet Merah Putih di Istana Negara, Jakarta, Rabu (11/2/2026). Dalam rapat tersebut, pemerintah membahas perkembangan realisasi program prioritas serta langkah-langkah menjaga momentum pemulihan ekonomi nasional.

“Dilaporkan juga bahwa hingga kuartal pertama tahun ini, realisasi anggaran MBG diperkirakan mencapai Rp60 triliun. Ini tentu akan memberikan efek stimulus yang kuat bagi perekonomian, terutama melalui peningkatan konsumsi masyarakat dan perputaran ekonomi di daerah,” ujar Airlangga.

Menurut Airlangga, belanja pemerintah melalui program MBG memiliki efek berganda (multiplier effect), mulai dari penyerapan tenaga kerja, peningkatan permintaan bahan pangan lokal, hingga mendorong aktivitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang terlibat dalam rantai pasok program tersebut.

Stimulus Tambahan Jelang Idul Fitri 2026

Selain MBG, pemerintah juga menyiapkan berbagai paket stimulus ekonomi lain untuk menopang pertumbuhan ekonomi pada kuartal I dan II 2026. Salah satu stimulus utama adalah kebijakan diskon tarif transportasi menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri 2026, yang bertujuan menjaga daya beli masyarakat sekaligus mendorong mobilitas dan sektor pariwisata domestik.

Diskon yang diberikan meliputi potongan tarif kereta api sebesar 30 persen, angkutan laut sebesar 30 persen, jasa penyeberangan hingga 100 persen, serta diskon tiket pesawat berkisar 17–18 persen. Kebijakan ini diharapkan dapat menekan biaya perjalanan masyarakat, terutama bagi kelompok berpendapatan menengah ke bawah.

“Estimasi anggaran keseluruhan untuk program diskon transportasi ini mencapai Rp911,16 miliar, dengan kontribusi dari APBN sebesar Rp639,86 miliar dan non-APBN sebesar Rp271,3 miliar,” jelas Airlangga.

Pemerintah menilai stimulus transportasi ini penting untuk menjaga stabilitas inflasi, khususnya inflasi musiman yang kerap meningkat menjelang Lebaran akibat lonjakan permintaan.

Bantuan Pangan untuk 35 Juta Keluarga

Di sisi lain, pemerintah juga akan menyalurkan bantuan pangan pada Februari 2026 kepada 35,04 juta keluarga penerima manfaat (KPM), yang mencakup kelompok masyarakat desil 1 hingga 4. Bantuan tersebut berupa 10 kilogram beras dan 2 liter minyak goreng per keluarga, dengan total anggaran mencapai Rp11,92 triliun.

Airlangga menegaskan, bantuan pangan ini merupakan langkah antisipatif untuk menjaga daya beli masyarakat rentan sekaligus mengendalikan harga bahan pokok di pasar.

“Pemerintah daerah dan instansi terkait diharapkan dapat memastikan kelancaran distribusi dan logistik, agar bantuan benar-benar sampai tepat waktu dan tepat sasaran,” tambahnya.

Prabowo Kejar Target 82,3 Juta Penerima MBG

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menargetkan perluasan Program Makan Bergizi Gratis hingga menjangkau 82,3 juta penerima manfaat sebelum akhir tahun 2026. Target tersebut disampaikan Prabowo dalam acara Mujahadah Kubro 1 Abad NU yang disiarkan secara virtual melalui kanal YouTube Sekretariat Negara, Minggu (8/2/2026).

“Insyaallah sebelum akhir tahun 2026 kita akan sampai pada angka 82,3 juta penerima yang berhak,” ujar Prabowo.

Presiden menegaskan bahwa MBG merupakan salah satu program unggulan pemerintah dalam menekan angka kemiskinan, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta memperkuat fondasi kesejahteraan masyarakat. Hingga saat ini, program tersebut disebut telah menjangkau lebih dari 60 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia dalam kurun waktu kurang dari satu setengah tahun.

“Kita sudah memberi makan kepada lebih dari 60 juta anak-anak, ibu-ibu, dan orang-orang tua di seluruh Indonesia. Ini merupakan capaian besar dalam waktu yang relatif singkat,” kata Prabowo.

Penerima manfaat MBG mencakup anak usia sekolah, ibu hamil dan menyusui, serta kelompok lanjut usia yang membutuhkan dukungan pemenuhan gizi. Pemerintah menilai program ini tidak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat, tetapi juga pada peningkatan kualitas pendidikan dan produktivitas tenaga kerja di masa depan.

Investasi Jangka Panjang untuk Menekan Kemiskinan

Prabowo menegaskan bahwa MBG bukan sekadar bantuan sosial jangka pendek, melainkan bagian dari investasi jangka panjang negara. Pemenuhan gizi yang baik diyakini dapat menekan risiko stunting, meningkatkan kecerdasan anak, serta mengurangi beban kesehatan di masa mendatang.

Menurut Presiden, ketika kebutuhan dasar pangan masyarakat terpenuhi, tekanan ekonomi rumah tangga dapat berkurang, sehingga masyarakat memiliki ruang lebih besar untuk meningkatkan taraf hidupnya.

“Saya merasakan harapan yang ada di hati para ibu, orang tua, dan seluruh rakyat. Harapan bahwa Indonesia yang merdeka harus adil dan makmur bagi semua,” pungkas Prabowo.

Pemerintah optimistis, dengan kombinasi program MBG, bantuan pangan, serta stimulus ekonomi lainnya, pertumbuhan ekonomi nasional pada 2026 dapat tetap terjaga di tengah dinamika global yang masih penuh tantangan.