Rupiah Menguat ke Level 17.695 per Dolar AS, Harga Minyak Jadi Penopang
Rupiah Menguat ke Rp17.695 per Dolar AS, Harga Minyak Jadi Penopang di Tengah Harapan Damai Timur Tengah
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada perdagangan Rabu, 26 Agustus 2026. Penguatan rupiah terjadi ketika pasar mulai merespons positif perkembangan terbaru di Timur Tengah, terutama upaya Iran dan Oman untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Mengutip data perdagangan yang dilaporkan Antara, rupiah menguat 28 poin atau 0,16% menjadi Rp17.695 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Rabu. Posisi tersebut membaik dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.723 per dolar AS.
Penguatan rupiah terjadi ketika harga minyak mentah dunia mulai turun. Bagi Indonesia, perkembangan harga minyak menjadi perhatian penting karena Indonesia masih membutuhkan impor minyak dalam jumlah besar. Ketika harga minyak meningkat, kebutuhan dolar AS untuk membayar impor energi juga cenderung naik sehingga dapat memberikan tekanan terhadap rupiah.
Sebaliknya, penurunan harga minyak dapat mengurangi tekanan terhadap kebutuhan valuta asing dan membantu memperbaiki sentimen terhadap mata uang negara-negara importir minyak, termasuk Indonesia.
Harapan Pembukaan Selat Hormuz Jadi Sentimen Positif
Salah satu faktor utama yang diperhatikan pasar saat ini adalah perkembangan hubungan Iran dan Oman terkait Selat Hormuz.
Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr bin Hamad Al Busaidi dan Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi membahas langkah untuk memulihkan kebebasan navigasi melalui jalur perairan strategis tersebut.
Pembicaraan itu mencakup kemungkinan pembentukan koridor pelayaran sementara bersama, pengelolaan lalu lintas kapal, pertukaran informasi, layanan keamanan dan navigasi, serta upaya pembersihan ranjau di kawasan Selat Hormuz. Kedua negara juga disebut akan melanjutkan pembicaraan untuk mencari pengaturan permanen terkait jalur pelayaran tersebut.
Perkembangan terbaru bahkan menunjukkan Iran dan Oman telah bergerak lebih jauh dalam pembahasan rute sementara. Namun, pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh masih menghadapi sejumlah persoalan geopolitik dan belum dapat dianggap sebagai kondisi normal.
Hal tersebut penting bagi pasar minyak global. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling strategis di dunia. Sebelum konflik berlangsung, jalur ini menangani sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair global. Aktivitas pelayaran masih jauh di bawah kondisi normal. Data Kpler yang dikutip Reuters menunjukkan hanya lima kapal komoditas yang melintas pada Selasa, dibandingkan rata-rata 15 kapal dalam periode 10 hari sebelumnya.
Dengan demikian, meskipun ada harapan bahwa arus pelayaran dapat kembali pulih, risiko gangguan pasokan energi masih belum sepenuhnya hilang.
Harga Minyak Mulai Turun
Perkembangan diplomasi di Timur Tengah langsung tercermin pada pasar minyak.
Harga Brent dilaporkan turun ke sekitar US$86,2 per barel, setelah sebelumnya mengalami penurunan 2,4%. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) juga bergerak turun.
Data pasar terbaru menunjukkan Brent sempat berada di sekitar US$88,58 per barel, turun sekitar 3,9% dalam perdagangan terakhir, sementara WTI berada di sekitar US$81 per barel. Penurunan tersebut mencerminkan berkurangnya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan apabila pelayaran melalui Selat Hormuz secara bertahap dapat kembali berjalan.
Meski demikian, harga minyak masih berada pada level tinggi. Artinya, risiko terhadap negara-negara importir energi belum sepenuhnya berakhir.
Bagi Indonesia, harga minyak menjadi salah satu faktor penting karena kenaikan harga minyak dapat memperbesar kebutuhan impor migas. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat meningkatkan permintaan terhadap dolar AS.
Rupiah Diperkirakan Bergerak di Rp17.650-Rp17.750
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan rupiah masih memiliki peluang untuk menguat apabila harga minyak terus turun dan sentimen geopolitik semakin membaik.
Menurut proyeksinya, rupiah berpotensi bergerak dalam kisaran Rp17.650 hingga Rp17.750 per dolar AS pada perdagangan hari ini.
Namun, ruang penguatan rupiah tetap perlu dilihat secara hati-hati. Pasar tidak hanya mempertimbangkan perkembangan Timur Tengah, tetapi juga kondisi domestik, arus modal asing, kebijakan Bank Indonesia, serta arah suku bunga AS.
Selain itu, investor domestik juga mencermati perkembangan demonstrasi yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 27 Agustus 2026. Faktor politik dan keamanan domestik dapat memengaruhi sentimen investor apabila eskalasinya meningkat.
BI Pertahankan Suku Bunga 5,75%
Dari sisi kebijakan moneter domestik, Bank Indonesia masih mempertahankan BI-Rate pada level 5,75%.
Dalam Rapat Dewan Gubernur pada 18-19 Agustus 2026, BI memutuskan mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75%. Suku bunga Deposit Facility juga tetap berada di 4,75%, sedangkan Lending Facility dipertahankan pada 6,50%.
Keputusan tersebut antara lain ditujukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya volatilitas global akibat konflik di Timur Tengah.
BI juga masih berupaya memperkuat stabilitas rupiah melalui berbagai kebijakan untuk mendorong aliran modal asing, meningkatkan likuiditas, serta memperdalam pasar uang dan pasar valuta asing.
Dengan BI-Rate yang masih cukup tinggi, terdapat instrumen kebijakan yang dapat membantu menjaga daya tarik aset rupiah. Namun, kekuatan dolar AS dan arah kebijakan The Fed tetap menjadi faktor eksternal yang sangat menentukan.
The Fed Masih Menjadi Risiko bagi Rupiah
Perhatian pasar global kini juga tertuju pada Federal Reserve atau The Fed.
The Fed saat ini mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,50%-3,75%. Namun, perdebatan mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga kembali menguat.
Risiko tersebut muncul karena inflasi AS masih berada di atas target 2%. Presiden Federal Reserve Bank of Boston Susan Collins bahkan mengatakan The Fed mungkin perlu menaikkan suku bunga dalam waktu dekat apabila data mendatang tidak menunjukkan penurunan inflasi yang berkelanjutan.
Risiko kenaikan suku bunga semakin menjadi perhatian setelah risalah pertemuan The Fed pada Juli menunjukkan adanya perbedaan pandangan yang cukup kuat di antara para pembuat kebijakan.
Tiga anggota FOMC pada pertemuan Juli mendukung kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin. Pasar kini menunggu perkembangan data inflasi, tenaga kerja, serta pidato pejabat The Fed untuk mendapatkan petunjuk mengenai arah kebijakan pada pertemuan September.
Jika The Fed kembali mengambil kebijakan lebih ketat, dolar AS berpotensi menguat terhadap mata uang negara berkembang. Kondisi tersebut dapat menjadi tantangan bagi rupiah meskipun sentimen harga minyak sedang positif.
Ekonomi AS Masih Cukup Kuat
Data aktivitas ekonomi AS juga memberikan alasan bagi pasar untuk tetap berhati-hati.
PMI jasa S&P Global AS pada Agustus mencapai 56,8, naik dari 54,6 pada bulan sebelumnya dan menjadi level tertinggi sejak Desember 2024. Sementara itu, PMI manufaktur turun menjadi 53,2 dari 53,9. (Reuters)
Data tersebut menunjukkan sektor jasa AS masih berkembang cukup kuat, meskipun manufaktur mulai menghadapi tekanan.
Kondisi ekonomi AS yang relatif kuat dapat mengurangi kebutuhan The Fed untuk segera melonggarkan kebijakan moneter. Sebaliknya, apabila inflasi kembali meningkat akibat kenaikan harga energi, ruang untuk penurunan suku bunga bisa semakin terbatas.
Hal tersebut menjadi salah satu risiko bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Transaksi Berjalan Indonesia Melebar
Sebelumnya, tekanan terhadap rupiah juga datang dari pelebaran defisit transaksi berjalan Indonesia.
Bank Indonesia mencatat defisit transaksi berjalan pada kuartal II 2026 mencapai US$12,5 miliar atau sekitar 3,3% dari PDB. Angka ini meningkat cukup tajam dibandingkan defisit US$3,6 miliar atau 1% dari PDB pada kuartal sebelumnya.
Pelebaran defisit tersebut terutama dipengaruhi oleh meningkatnya defisit perdagangan minyak dan gas akibat impor minyak yang lebih tinggi ketika harga minyak dunia berada pada level tinggi.
Selain itu, surplus perdagangan nonmigas juga menyempit karena impor nonmigas meningkat seiring aktivitas ekonomi domestik.
Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan karena defisit transaksi berjalan yang besar dapat meningkatkan kebutuhan pembiayaan eksternal.
Namun, kondisi neraca pembayaran secara keseluruhan masih relatif terjaga.
NPI Indonesia Justru Mengalami Perbaikan
Meskipun transaksi berjalan mengalami defisit yang melebar, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal II 2026 menunjukkan perbaikan.
Bank Indonesia mencatat NPI mengalami defisit US$900 juta pada kuartal II, jauh lebih kecil dibandingkan defisit US$9,1 miliar pada kuartal I 2026. Perbaikan tersebut terutama ditopang oleh transaksi modal dan finansial yang berbalik menjadi surplus.
Transaksi modal dan finansial mencatat surplus sekitar US$12 miliar, setelah pada kuartal sebelumnya mengalami defisit US$4,8 miliar.
Arus masuk investasi langsung dan investasi portofolio menjadi salah satu faktor yang membantu memperkuat posisi eksternal Indonesia.
Artinya, meskipun defisit transaksi berjalan menjadi perhatian, arus modal masuk masih memberikan bantalan bagi neraca pembayaran dan stabilitas rupiah.
Fundamental Ekonomi Indonesia Masih Menjadi Penopang
Dari sisi pertumbuhan ekonomi, Indonesia juga masih menunjukkan kinerja yang cukup solid.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,29% secara tahunan pada kuartal II 2026. Secara kuartalan, ekonomi tumbuh 3,73%, sementara pertumbuhan ekonomi semester I 2026 mencapai 5,45%.
Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada kuartal II 2026 mencapai Rp6.552,1 triliun berdasarkan harga berlaku.
Pertumbuhan tersebut memberikan gambaran bahwa aktivitas ekonomi domestik masih cukup kuat meskipun Indonesia menghadapi tekanan eksternal, termasuk volatilitas harga komoditas, ketegangan geopolitik, dan perubahan kebijakan moneter global.
Fundamental ekonomi yang relatif kuat dapat menjadi faktor pendukung bagi rupiah dalam jangka menengah.
Cadangan Devisa Masih Menjadi Bantalan
Bank Indonesia juga masih memiliki cadangan devisa yang cukup besar untuk membantu menjaga stabilitas eksternal.
Data BI menunjukkan cadangan devisa berada di sekitar US$145,34 miliar pada akhir Juli 2026. (Bank Indonesia)
Besarnya cadangan devisa memberikan ruang bagi otoritas moneter untuk menghadapi tekanan eksternal dan menjaga stabilitas pasar valuta asing.
Namun, cadangan devisa bukan berarti rupiah bebas dari tekanan. Pergerakan nilai tukar tetap sangat dipengaruhi oleh keseimbangan permintaan dan penawaran dolar, arus modal asing, kondisi perdagangan internasional, serta sentimen pasar global.
Apa yang Perlu Dicermati Investor?
Dalam jangka pendek, perkembangan Selat Hormuz menjadi salah satu faktor paling penting bagi rupiah.
Jika pembicaraan Iran dan Oman menghasilkan pembukaan jalur pelayaran yang lebih luas dan aman, risiko gangguan pasokan minyak dapat berkurang. Harga minyak berpotensi turun lebih jauh dan kondisi tersebut dapat memberikan sentimen positif bagi rupiah.
Namun, apabila proses diplomasi kembali menemui hambatan atau terjadi eskalasi konflik, harga minyak dapat kembali melonjak. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan kebutuhan dolar untuk impor energi Indonesia dan memberikan tekanan terhadap rupiah.
Selain faktor minyak, investor juga perlu mencermati keputusan dan komunikasi The Fed, arus modal asing ke pasar Indonesia, perkembangan transaksi berjalan, serta kondisi politik dan keamanan domestik.
Dengan berbagai faktor tersebut, penguatan rupiah ke Rp17.695 per dolar AS pada Rabu menjadi sinyal positif, tetapi belum cukup untuk menunjukkan bahwa tekanan terhadap mata uang Garuda telah sepenuhnya berakhir.
Untuk perdagangan Rabu, rupiah masih diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp17.650-Rp17.750 per dolar AS. Pergerakan berikutnya akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik Timur Tengah, harga minyak, arah dolar AS, dan respons investor terhadap kondisi ekonomi domestik.
0 Comments